1
1
akhunku.com – Standar GEO etis mulai menjadi isu sentral dalam dunia humas dan komunikasi publik global, seiring meroketnya peran kecerdasan buatan dan model bahasa besar sebagai gerbang utama informasi bagi masyarakat tentang merek, organisasi, dan kebijakan.
Seruan terbaru datang dari Public Relations and Communications Association (PRCA), salah satu asosiasi humas terbesar di dunia yang berbasis di Inggris. Mereka mengajak seluruh industri hubungan masyarakat (public relations) dan urusan publik (public affairs), baik di Inggris maupun internasional, untuk berkomitmen pada standar etika dalam praktik Generative Engine Optimisation (GEO) agar komunikasi tetap faktual, akurat, dan tidak dimanipulasi pihak yang tidak bertanggung jawab.
Istilah Generative Engine Optimisation (GEO) relatif baru, namun dampaknya sudah terasa luas. Jika selama satu dekade terakhir dunia digital dikuasai oleh Search Engine Optimisation (SEO), kini muncul lapisan baru: bagaimana konten dan reputasi merek terbaca oleh mesin generatif seperti model bahasa besar (Large Language Models/LLM) yang mendasari ChatGPT, Gemini, Copilot, dan berbagai asisten AI lainnya.
Pada dasarnya, GEO adalah upaya strategis untuk memastikan informasi tentang organisasi, tokoh, atau kebijakan muncul secara akurat dan seimbang ketika publik bertanya kepada mesin generatif. Bukan lagi sekadar muncul di halaman pertama mesin pencari, namun hadir dalam jawaban naratif yang dihasilkan AI.
Di titik inilah standar GEO etis menjadi sangat penting. Tanpa rambu-rambu etika, ruang baru ini bisa dimanfaatkan oleh bad actors untuk memanipulasi persepsi publik, menyebarkan disinformasi, atau memoles citra secara menyesatkan. PRCA mengingatkan, tanggung jawab utama praktisi humas adalah kepada kebenaran dan kepentingan publik, bukan sekadar memenangkan narasi.
Di Indonesia, diskursus ini masih relatif awal. Namun, mengingat adopsi AI yang kian masif di pemerintahan, bisnis, dan media, isu ini akan segera menyentuh kerja-kerja komunikasi di tanah air. Pembaca yang mengikuti perkembangan Teknologi dan transformasi digital perlu mulai memahami arah baru ini.
PRCA dikenal sebagai asosiasi profesi yang menekankan standar tinggi dalam etika komunikasi. Dalam konteks standar GEO etis, PRCA mengeluarkan rallying call kepada pelaku industri: agensi, konsultan, divisi humas korporasi, hingga praktisi urusan publik di lembaga pemerintah dan organisasi internasional.
Inti seruan mereka, meski dokumen lengkapnya bersifat berbayar dan tertutup, dapat dibaca dari ringkasan yang disampaikan:
Dalam tradisi etika kehumasan global – misalnya kode etik public relations yang dirujuk berbagai asosiasi internasional – kejujuran, akurasi, dan penghormatan pada kepentingan publik adalah pilar utama. PRCA pada dasarnya memperluas pilar tersebut ke ranah baru: interaksi antara manusia, data, dan mesin generatif.
Banyak pelaku industri mungkin tergoda menyamakan Generative Engine Optimisation dengan SEO tradisional. Padahal, ada perbedaan mendasar yang membuat standar GEO etis jauh lebih sensitif:
Itu sebabnya, ketika SEO yang agresif bisa berakhir pada clickbait dan keyword stuffing, praktik GEO yang tidak etis berpotensi mengarah pada manipulasi opini publik, terutama terkait isu kebijakan, pemilu, kesehatan publik, dan konflik sosial. Dalam konteks Indonesia yang rawan hoaks politik dan SARA, risiko ini menjadi berlipat.
Agar diskusi tidak berhenti pada tataran jargon, berikut tujuh fakta krusial mengenai standar GEO etis yang relevan bagi praktisi humas, pemasar, dan pembuat kebijakan di Indonesia:
Model bahasa besar “belajar” dari data yang tersebar di internet. Praktisi yang beretika akan memastikan seluruh rilis pers, laporan, konten situs, dan materi kampanye menyajikan data yang benar, terverifikasi, dan diberi konteks. Upaya sengaja menyebar data keliru hanya demi membentuk citra positif di mata AI adalah pelanggaran jelas terhadap standar GEO etis.
Seperti SEO yang kini menjadi kompetensi dasar pemasaran digital, GEO akan merembes ke semua lini komunikasi. PRCA mencatat, mesin generatif sedang menjadi antarmuka utama masyarakat untuk mencari informasi tentang merek dan kebijakan. Di Indonesia, hal ini sudah terlihat dari lonjakan penggunaan chatbot AI di kalangan profesional muda dan pelajar.
Esensi standar GEO etis terletak pada niat dan proses, bukan hanya alat. AI hanyalah medium; yang menentukan apakah suatu kampanye manipulatif atau tidak adalah strategi, keputusan editorial, dan persetujuan manajemen. Di sinilah peran kode etik profesi – yang kerap dibahas dalam komunitas Bisnis dan komunikasi korporat – menjadi penopang utama.
PRCA mengingatkan adanya bad actors yang melihat GEO sebagai ladang emas baru. Mereka bisa menciptakan situs-situs bayangan, laporan palsu, atau komentar sintetis yang dibuat AI untuk membanjiri ruang data dengan narasi tertentu. Ketika model generatif dilatih dari data tersebut, jawaban AI tentang suatu isu bisa condong pada perspektif yang sengaja direkayasa.
Inilah bentuk baru dari disinformasi struktural – bukan lagi sekadar konten hoaks yang viral, tetapi infrastruktur informasi yang dimodifikasi untuk menipu mesin.
Dalam kerangka standar GEO etis, transparansi adalah fondasi. Publik berhak tahu ketika suatu konten dihasilkan atau dimodifikasi oleh AI, terutama dalam konteks kampanye politik dan kebijakan publik. Tren global, seperti diskusi regulasi AI di Uni Eropa dan pedoman etika di berbagai negara yang diliput oleh media seperti Reuters, menunjukkan bahwa labelisasi konten AI akan menjadi standar baru.
Walau regulasi spesifik tentang GEO belum jamak, pola umum dapat ditebak: praktik manipulatif akan dibatasi, dan pelanggaran bisa berdampak hukum, terutama bila menyangkut konsumen dan keamanan nasional. Lebih jauh, reputasi organisasi dapat runtuh bila terungkap bahwa mereka memanipulasi mesin generatif untuk menyesatkan publik. Di era keterbukaan informasi, skandal etika komunikasi dapat mengundang pemberitaan negatif beruntun dari media arus utama seperti Kompas dan lainnya.
Di tengah kecurigaan publik terhadap AI, organisasi yang secara terbuka mengadopsi standar GEO etis justru dapat membangun kepercayaan jangka panjang. Mereka bisa mengkomunikasikan komitmen etis ini dalam laporan keberlanjutan, kebijakan tata kelola data, dan pedoman komunikasi internal. Ke depan, sertifikasi atau pengakuan asosiasi profesi seperti PRCA dapat menjadi keunggulan reputasi tersendiri.
Bagi praktisi humas dan komunikasi di Indonesia, ada beberapa implikasi praktis dari menguatnya wacana standar GEO etis ini:
Langkah-langkah ini bukan sekadar antisipasi teknologi, tetapi investasi kepercayaan publik. Dalam jangka panjang, organisasi yang konsisten dengan etika akan lebih tahan terhadap guncangan isu reputasi.
Penerapan standar GEO etis tidak bisa diserahkan pada satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi berlapis:
Di tengah derasnya perubahan teknologi, Indonesia memiliki kesempatan untuk tidak sekadar menjadi konsumen pasif, tetapi ikut merumuskan norma dan praktik baik. Diskusi yang dimulai oleh PRCA tentang standar GEO etis seharusnya menjadi pemicu percakapan serupa di Nusantara.
Pergeseran dari mesin pencari ke mesin generatif mengubah cara publik Indonesia dan dunia membentuk opini tentang isu-isu penting: dari kesehatan dan pendidikan, hingga pemilu dan kebijakan luar negeri. Di balik perubahan itu, praktisi humas dan komunikasi memegang peran strategis: apakah teknologi ini akan digunakan untuk mencerahkan, atau justru menggelapkan ruang informasi.
Seruan PRCA agar industri global mematuhi standar GEO etis pantas menjadi cermin bagi ekosistem komunikasi di Indonesia. Dengan menempatkan akurasi, transparansi, dan kepentingan publik sebagai prioritas, kita bukan hanya menghindari skandal manipulasi AI, tetapi juga membangun fondasi kepercayaan jangka panjang antara organisasi, media, dan masyarakat. Pada akhirnya, standar GEO etis layak dipandang sebagai kompas moral baru di era AI – kompas yang menentukan ke mana arah etika komunikasi modern akan bermuara.