1
1
akhunku.com – Investasi GLP-1 sedang menjadi salah satu strategi paling agresif dan menjanjikan di industri farmasi global. Langkah terbaru datang dari OneSource Specialty Pharma, perusahaan CDMO asal Bengaluru, India, yang menargetkan lonjakan pendapatan hingga US$500 juta pada tahun buku 2028 dengan margin EBITDA sekitar 40%. Proyeksi ambisius ini muncul di tengah berakhirnya masa paten obat berbasis semaglutide dan meledaknya pasar obat kelas GLP-1 di seluruh dunia.
OneSource Specialty Pharma, yang baru saja demerger atau dipisahkan dari Strides Pharma pada 2024, memosisikan diri sebagai pemain layanan farmasi terkontrak atau Contract Development and Manufacturing Organization (CDMO). Sebagai CDMO, perusahaan ini tidak menjual obat bermerek sendiri, melainkan menyediakan jasa pengembangan dan produksi bagi perusahaan farmasi lain.
Target pendapatan US$500 juta hingga tahun buku 2028 tampak agresif, namun memiliki beberapa fondasi kuat:
Menurut berbagai laporan industri, pasar obat GLP-1 diproyeksikan bernilai puluhan miliar dolar AS dalam beberapa tahun ke depan. Novo Nordisk dengan Ozempic dan Wegovy, serta Eli Lilly dengan Mounjaro, menjadi contoh bagaimana obat GLP-1 mengubah peta persaingan farmasi global. Gambaran ini dapat ditelusuri melalui data dan uraian di Wikipedia tentang GLP-1, yang menjelaskan mekanisme hormon ini dalam mengatur gula darah dan nafsu makan.
OneSource adalah hasil pemisahan dari Strides Pharma, sebuah perusahaan farmasi India yang sudah mapan. Melalui demerger ini, Strides ingin memisahkan bisnis jasa CDMO bernilai tinggi agar fokus pada segmen yang tumbuh cepat. CDMO sendiri menjadi model bisnis yang semakin diminati karena perusahaan farmasi global ingin efisiensi biaya, berbagi risiko, dan mempercepat waktu ke pasar.
Dari perspektif investasi GLP-1, posisi sebagai CDMO memberi beberapa keuntungan strategis:
Model seperti ini mirip dengan tren global di mana CDMO menjadi tulang punggung rantai pasok farmasi modern. Banyak analis menyebut era baru “outsourced pharma manufacturing” sebagai salah satu pendorong pertumbuhan industri hingga 2030.
India sudah lama dikenal sebagai “apotik dunia” karena kapasitas besar dalam memproduksi obat generik berbiaya rendah. Dengan masuknya pemain seperti OneSource ke dalam investasi GLP-1, posisi India berpotensi semakin menguat di rantai pasok terapi diabetes dan obesitas global.
Bagi kawasan Asia, termasuk Indonesia, ada beberapa implikasi penting:
Dalam konteks Indonesia, beban penyakit diabetes dan obesitas juga terus meningkat. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan prevalensi diabetes meningkat di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Jika terapi GLP-1 generik menjadi lebih terjangkau, ini bisa menjadi komponen penting dalam strategi pengendalian penyakit kronis di dalam negeri.
Salah satu pendorong utama agresivitas investasi GLP-1 adalah apa yang disebut sebagai patent cliff — masa ketika perlindungan paten obat blockbuster berakhir. Semaglutide, sebagai salah satu molekul GLP-1 paling populer saat ini, menjadi target utama.
Ketika paten berakhir, beberapa hal biasanya terjadi:
Dalam konteks ini, OneSource melihat peluang bukan hanya pada produksi bahan aktif atau active pharmaceutical ingredient (API), tetapi juga formulasi jadi, pengemasan, hingga layanan riset dan pengembangan. Hal ini menjelaskan mengapa proyeksi pendapatan bisa mencapai US$500 juta hanya dalam empat sampai lima tahun ke depan.
Meski narasi utama saat ini berputar di sekitar investasi GLP-1, perusahaan CDMO yang berpengalaman biasanya tidak bertumpu pada satu kelas obat saja. Diversifikasi produk dan klien menjadi penting untuk mengurangi risiko regulasi, tren medis, dan perubahan pasar.
Indikasi yang bisa dibaca dari langkah OneSource antara lain:
Bila strategi ini berhasil, OneSource bisa naik kelas dari sekadar pemain regional menjadi salah satu CDMO global yang diperhitungkan, sejajar dengan perusahaan-perusahaan besar yang selama ini mendominasi pasar layanan manufaktur farmasi.
Dari perspektif pasar modal dan investor, gelombang investasi GLP-1 memiliki beberapa konsekuensi penting:
Bagi pembaca di Indonesia yang mengikuti perkembangan industri dan pasar modal, tren ini juga relevan karena bisa memengaruhi kebijakan impor obat, peluang kerja sama lintas negara, hingga arah riset farmasi domestik. Anda dapat mengikuti perkembangan sektor kesehatan dan farmasi lain di kanal khusus Kesehatan kami.
Di balik angka-angka besar, investasi GLP-1 juga memunculkan perdebatan etika. Di satu sisi, obat-obat GLP-1 dianggap terobosan penting untuk mengendalikan diabetes dan obesitas. Di sisi lain, muncul kekhawatiran mengenai:
Isu-isu ini juga relevan bagi Indonesia, yang menghadapi tantangan ganda: meningkatnya prevalensi penyakit tidak menular dan tekanan anggaran kesehatan. Diskursus seputar obat GLP-1, termasuk semaglutide, seharusnya tidak hanya soal peluang bisnis, tetapi juga tata kelola sistem kesehatan yang adil dan berkelanjutan.
Bagi pembaca yang bergerak di industri farmasi, kesehatan, maupun kebijakan publik, ada beberapa langkah strategis yang dapat dipertimbangkan dalam konteks investasi GLP-1 global:
Isu-isu seperti ini sejalan dengan transformasi sistem kesehatan yang lebih luas, termasuk pembiayaan dan peran sektor swasta. Pembaca yang tertarik pada dinamika ekonomi dan kebijakan publik dapat mengikuti ulasan lain di kanal Ekonomi kami.
Melihat tren saat ini, kecil kemungkinan minat terhadap investasi GLP-1 akan mereda dalam waktu dekat. Tingginya beban penyakit diabetes dan obesitas, dikombinasikan dengan efektivitas terapi GLP-1, menjadikan segmen ini salah satu pilar utama pertumbuhan farmasi global satu dekade ke depan.
Namun, beberapa faktor yang perlu terus dipantau antara lain:
Bagi OneSource, bola kini ada di tangan manajemen: apakah mereka mampu mengonversi peluang pasar menjadi kontrak nyata, kapasitas produksi yang andal, serta rekam jejak kualitas yang konsisten. Jika ya, mereka bisa menjadi salah satu simbol bagaimana perusahaan CDMO dari negara berkembang mengambil peran sentral dalam ekosistem kesehatan global.
Pertumbuhan pesat OneSource Specialty Pharma, dengan target pendapatan US$500 juta dan margin EBITDA 40% pada 2028, menunjukkan betapa besar daya tarik investasi GLP-1 dalam lanskap farmasi modern. Di balik istilah teknis seperti CDMO, patent cliff, dan margin EBITDA, sesungguhnya ada cerita yang lebih besar: transformasi cara dunia menangani penyakit kronis dan bagaimana negara-negara berkembang seperti India memosisikan diri di jantung rantai pasok global.
Bagi Indonesia, gelombang investasi GLP-1 ini adalah peringatan sekaligus peluang. Jika dimanfaatkan dengan tepat melalui kolaborasi internasional, penguatan riset, dan regulasi yang cerdas, terapi GLP-1 bisa menjadi bagian dari solusi atas tantangan diabetes dan obesitas, bukan sekadar komoditas bisnis. Pada akhirnya, keberhasilan strategi global ini akan diukur bukan hanya dari angka pendapatan dan valuasi perusahaan, tetapi juga dari seberapa jauh ia mampu meningkatkan kualitas hidup jutaan pasien di seluruh dunia.