1
1
akhunku.com – biaya pembangunan perumahan kembali menjadi sorotan global setelah pemerintah Provinsi Ontario di Kanada dan mantan Gubernur Bank of England, Mark Carney, mengumumkan komitmen pendanaan besar senilai 8,8 miliar dolar Kanada (sekitar Rp144 triliun) untuk memangkas biaya dan pungutan pembangunan hunian, khususnya di kawasan Toronto Raya (Greater Toronto Area/GTA).
Langkah ini diklaim akan memangkas separuh beban biaya terkait pembangunan, termasuk development charges (pungutan pengembangan) yang selama ini menjadi salah satu faktor utama mahalnya harga rumah dan apartemen. Bagi pembaca di Indonesia, kebijakan ini menarik untuk dicermati karena menawarkan cermin bagaimana negara maju mencoba mengatasi krisis hunian yang sangat mirip dengan tantangan yang kita hadapi di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan sekitarnya.
Ontario, dengan pusat ekonominya di Toronto, tengah berhadapan dengan krisis keterjangkauan hunian yang serius. Harga rumah dan kondominium melonjak tajam selama bertahun-tahun, sementara suku bunga juga meningkat. Kombinasi ini membuat banyak proyek apartemen dan kondominium baru “membeku” karena pengembang menunda atau membatalkan pembangunan akibat risiko tinggi dan minat beli yang melemah.
Dalam konteks ini, pemerintah provinsi yang dipimpin Perdana Menteri Ontario Doug Ford bersama Mark Carney, ekonom senior yang dispekulasikan akan maju dalam politik federal Kanada, mengumumkan rencana untuk menggelontorkan dana 8,8 miliar dolar Kanada. Dana tersebut digunakan untuk memotong biaya pembangunan perumahan, terutama pungutan dan biaya-biaya yang dibebankan kepada pengembang untuk infrastruktur dan layanan publik terkait proyek baru.
Menurut laporan media lokal Kanada, di antaranya CBC News dan The Globe and Mail, salah satu fokus utama adalah development charges yang dipungut pemerintah kota. Biaya ini selama ini menjadi komponen signifikan dalam struktur biaya pengembang dan ujungnya diteruskan ke harga jual unit hunian.
Untuk memahami dampak kebijakan ini, kita perlu membedah beberapa fakta penting yang berkaitan langsung dengan biaya pembangunan perumahan di Ontario dan implikasinya bagi pasar hunian.
Komitmen 8,8 miliar dolar Kanada diarahkan untuk memangkas hingga separuh berbagai biaya terkait pembangunan hunian, termasuk development charges dan biaya lain yang selama ini dibebankan oleh pemerintah lokal. Konsep utamanya: sebagian biaya yang tadinya harus ditanggung pengembang akan diganti oleh dana provinsi.
Dengan begitu, biaya pembangunan perumahan per unit dapat turun, sehingga:
Mark Carney menyebut langkah ini sebagai upaya untuk “mencairkan” pasar kondominium di GTA yang selama ini “membeku” karena kombinasi biaya tinggi dan ketidakpastian ekonomi.
Segmen kondominium menjadi perhatian khusus karena di kota besar seperti Toronto, apartemen bertingkat tinggi adalah salah satu cara utama menambah stok hunian di tengah keterbatasan lahan. Pasar ini sempat berkembang pesat, namun beberapa tahun terakhir menunjukkan tanda-tanda perlambatan tajam.
Kenaikan suku bunga, biaya konstruksi yang meningkat, dan development charges yang mahal membuat banyak rencana proyek baru tidak lagi masuk akal secara finansial. Kebijakan pemangkasan biaya pembangunan perumahan diharapkan menjadi pemicu untuk menghidupkan kembali pipeline proyek kondominium.
Mark Carney menyatakan bahwa langkah ini akan membantu “meng-unfreeze” atau mencairkan pasar kondominium GTA, membuka kembali arus investasi dan pembangunan yang selama ini tertahan.
Dalam banyak kasus, development charges digunakan untuk membiayai infrastruktur pendukung: jalan baru, jaringan air dan listrik, fasilitas publik, hingga ruang terbuka hijau. Jika pungutan ini dikurangi, pertanyaannya: siapa yang akan menanggung biaya tersebut?
Jawaban Ontario adalah: provinsi akan menyuntikkan dana dari anggaran publik—dalam hal ini 8,8 miliar dolar Kanada—untuk menutup sebagian kekurangan. Ini berarti beban biaya yang sebelumnya langsung ditanggung pengembang (dan diteruskan ke pembeli) kini sebagian dibagi ke seluruh pembayar pajak melalui anggaran pemerintah.
Debat serupa juga terjadi di Indonesia. Pungutan seperti Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang kini diganti dengan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), kontribusi pengembang untuk fasilitas sosial dan umum, hingga pajak-pajak daerah semua berkontribusi terhadap total biaya pembangunan perumahan. Kebijakan Ontario mengilustrasikan satu pendekatan ekstrem: negara hadir lebih besar untuk meringankan beban di sisi penawaran.
Apakah pemangkasan biaya pembangunan perumahan otomatis membuat harga rumah turun? Jawabannya tidak sesederhana itu. Secara teori, jika biaya pengembang turun, mereka memiliki ruang untuk menurunkan harga jual atau setidaknya mengendalikan kenaikan harga.
Namun, beberapa faktor lain juga berperan:
Pengalaman di berbagai negara, termasuk yang tercatat dalam studi-studi pasar perumahan di Wikipedia, menunjukkan bahwa penurunan beban biaya di sisi penawaran biasanya membutuhkan waktu untuk benar-benar terasa di harga jual konsumen. Namun, tanpa intervensi di sisi biaya, krisis keterjangkauan cenderung semakin memburuk.
Pengumuman 8,8 miliar dolar Kanada ini bukan hanya kebijakan ekonomi, tetapi juga memiliki dimensi politik kuat. Doug Ford berusaha menunjukkan bahwa pemerintah provinsi serius menjawab keluhan warga terkait mahalnya rumah, sementara keterlibatan Mark Carney—sosok yang digadang-gadang berpotensi menjadi tokoh penting di level federal—memberi bobot kredibilitas ekonomi.
Dari sudut pandang investor dan pengembang, sinyal ini penting. Komitmen besar ini menunjukkan bahwa pemerintah bersedia berbagi risiko dan membantu menurunkan biaya pembangunan perumahan, suatu faktor kunci dalam keputusan investasi jangka panjang di sektor properti.
Situasi di Ontario memiliki banyak kemiripan dengan kondisi Indonesia, terutama di kawasan metropolitan seperti Jabodetabek. Harga tanah tinggi, biaya konstruksi naik, perizinan dan pungutan yang kompleks, sementara kebutuhan hunian terus bertambah setiap tahun.
Di Indonesia, pemerintah pusat sudah mencoba berbagai skema, mulai dari subsidi bunga KPR, program rumah bersubsidi, hingga reformasi perizinan melalui OSS dan penyederhanaan aturan bangunan. Namun, komponen biaya non-konstruksi seperti pajak, retribusi, dan pungutan lain tetap mempertebal total biaya pembangunan perumahan.
Untuk memperkaya perspektif, pembaca bisa menelusuri ulasan sektor properti dan kebijakan perumahan di kanal Ekonomi dan dinamika kebijakan publik di kanal Nasional di portal kami.
Ontario memilih melakukan subsidi langsung terhadap pungutan daerah. Apakah pendekatan serupa mungkin diterapkan di Indonesia? Secara fiskal, pemerintah kita tentu harus lebih berhitung karena ruang anggaran terbatas dan prioritas lain seperti kesehatan dan pendidikan juga mendesak.
Namun, beberapa prinsip dari kebijakan Kanada ini relevan:
Satu hal yang juga disorot dari kasus Ontario adalah perlunya koordinasi erat antara pemerintah provinsi dan pemerintah kota. Di Indonesia, kompleksitas bertambah karena perizinan dan pungutan tersebar di berbagai level pemerintahan.
Tanpa kerangka regulasi yang stabil dan terkoordinasi, pengembang akan memasukkan premium risiko ke dalam kalkulasi biaya pembangunan perumahan, yang akhirnya membebani konsumen. Di sinilah reformasi tata kelola perizinan dan kepastian kebijakan menjadi sepenting insentif fiskal itu sendiri.
Pengalaman internasional, termasuk yang kini tengah dipraktikkan Ontario, menunjukkan bahwa menurunkan biaya pembangunan perumahan adalah langkah penting, tetapi bukan satu-satunya jawaban. Ada beberapa elemen lain yang harus berjalan beriringan:
Ontario tampaknya mencoba menggabungkan intervensi biaya dengan langkah-langkah lain, termasuk peninjauan peraturan zonasi dan dorongan untuk pembangunan di sekitar jalur transportasi publik massal.
Kebijakan Ontario dan manuver Mark Carney-Doug Ford mengirim pesan kuat: di tengah krisis keterjangkauan hunian, pemerintah tidak bisa sekadar menyerahkan nasib pasar perumahan sepenuhnya pada mekanisme pasar. Intervensi terarah pada biaya pembangunan perumahan menjadi salah satu alat kebijakan yang semakin dipertimbangkan, bahkan di negara maju dengan tradisi pasar bebas yang kuat.
Bagi Indonesia, kisah ini menjadi bahan refleksi penting. Jika ingin benar-benar mengatasi backlog jutaan unit hunian dan membantu generasi muda memiliki rumah pertama, diskusi tentang pajak, pungutan, dan struktur biaya di sepanjang rantai nilai properti tidak bisa lagi dihindari. Bukan berarti semua biaya harus dihapuskan, tetapi bagaimana mengelola dan membaginya secara lebih adil antara pengembang, pembeli, dan negara.
Pada akhirnya, keberhasilan kebijakan mana pun akan diukur dari satu hal: apakah rumah dan apartemen menjadi lebih terjangkau dan layak bagi masyarakat luas, tanpa mengorbankan kualitas dan keberlanjutan fiskal. Di situ, pengelolaan biaya pembangunan perumahan menjadi salah satu kunci utama yang tidak boleh diabaikan.