1
1
akhunku.com – Platform teknologi iklim kembali menjadi pusat perhatian setelah Zevero, salah satu pemain baru di bidang manajemen karbon, mengumumkan pendanaan terbaru senilai US$7 juta (sekitar Rp112 miliar) di tengah meningkatnya permintaan global atas data emisi karbon yang akurat dan real time.
Berbasis di London, Zevero memposisikan diri sebagai carbon management platform yang membantu perusahaan memahami, mengukur, dan mengelola jejak karbon mereka. Putaran pendanaan ini melibatkan investor seperti Spiral Capital, Gazelle Capital, dan Deep 30, sehingga total dana yang berhasil dikumpulkan Zevero sejauh ini mencapai US$14 juta.
Pendanaan terhadap Zevero mencerminkan tren yang jauh lebih besar: transformasi cara dunia bisnis menghadapi krisis iklim. Jika satu dekade lalu isu iklim lebih banyak dibahas di forum kebijakan dan aktivisme, kini ia telah berubah menjadi persoalan data, teknologi, dan manajemen risiko yang sangat konkret di sektor korporasi.
Bagi para pelaku usaha, khususnya perusahaan menengah dan besar, data karbon bukan lagi sekadar angka untuk laporan tahunan. Di banyak yurisdiksi, termasuk Uni Eropa dan Inggris, pengungkapan emisi gas rumah kaca sudah menjadi bagian dari regulasi dan standar pelaporan yang mengikat. Sumber-sumber seperti UNEP dan Wikipedia tentang perubahan iklim menunjukkan bagaimana tekanan regulasi, pasar, dan masyarakat mendorong perusahaan untuk semakin transparan terhadap dampak lingkungan.
Dalam konteks inilah Zevero dan berbagai platform teknologi iklim lain berkembang pesat. Mereka menawarkan solusi terpadu untuk menghimpun, memverifikasi, dan menganalisis data emisi dari berbagai sumber dalam rantai nilai perusahaan – mulai dari konsumsi listrik, bahan bakar, perjalanan bisnis, hingga emisi terselubung dalam pasokan bahan baku.
Putaran pendanaan terbaru senilai US$7 juta yang diterima Zevero menunjukkan bahwa minat investor terhadap startup iklim, khususnya yang bergerak di bidang data dan software-as-a-service (SaaS), masih sangat kuat. Ini terjadi meski banyak sektor teknologi lain mengalami pengetatan pendanaan dalam dua tahun terakhir.
Beberapa poin penting dari pendanaan tersebut:
Secara global, investasi di sektor teknologi iklim memang menunjukkan ketahanan dibanding banyak sektor lain. Laporan-laporan dari lembaga riset dan media internasional seperti Reuters Sustainability menggambarkan bahwa solusi yang berfokus pada dekarbonisasi, efisiensi energi, dan sistem pengukuran emisi dipandang sebagai pilar penting menuju ekonomi rendah karbon.
Walau detail teknis penuh Zevero tidak seluruhnya diungkap dalam rilis singkat, secara umum platform manajemen karbon modern memiliki sejumlah fitur utama. Dengan memadukan pengetahuan teknologi dan kebijakan iklim, kami dapat mengurai kemungkinan cara kerja platform seperti Zevero:
1. Pengumpulan data multi-sumber
Platform semacam Zevero biasanya terhubung dengan berbagai sistem internal perusahaan: ERP, sistem keuangan, perangkat metering energi, sistem logistik, hingga data perjalanan dinas. Dari sini, platform menyusun gambaran emisi berdasarkan tiga lingkup utama (Scope 1, 2, dan 3) sesuai standar Protokol Gas Rumah Kaca (GHG Protocol).
2. Standarisasi dan verifikasi
Data mentah yang sangat beragam (kWh listrik, liter bahan bakar, ton material, kilometer perjalanan, dan lain-lain) dikonversi menjadi emisi CO2-ekivalen menggunakan emission factor yang diakui secara internasional. Di sini, akurasi dan transparansi metodologi menjadi pembeda utama antara platform yang kredibel dan yang sekadar kosmetik.
3. Visualisasi dan pelaporan
Dashboard interaktif membantu manajemen melihat di mana sumber emisi terbesar, tren dari waktu ke waktu, dan skenario pengurangan. Laporan dapat disesuaikan dengan berbagai kerangka pelaporan keberlanjutan seperti GRI, TCFD, atau bahkan regulasi khusus di wilayah tertentu.
4. Rekomendasi aksi dan integrasi strategi iklim
Generasi baru platform teknologi iklim tidak berhenti pada pelaporan. Mereka mulai melangkah ke fungsi konsultatif berbasis data: mengidentifikasi area penghematan energi, menyarankan perubahan pemasok, atau membantu merancang target penurunan emisi jangka pendek dan jangka panjang.
Pertumbuhan Zevero tidak dapat dilepaskan dari konteks global yang lebih luas. Ada beberapa pendorong utama mengapa permintaan data karbon melonjak tajam:
Kombinasi faktor ini menjadikan platform teknologi iklim sebagai infrastruktur digital baru untuk ekonomi hijau. Bukan lagi “nice to have”, melainkan “license to operate” bagi banyak perusahaan.
Bagi pembaca di Indonesia, perkembangan Zevero dan platform serupa bukan sekadar berita luar negeri. Ada beberapa implikasi strategis bagi dunia usaha nasional dan pembuat kebijakan di Tanah Air.
1. Perusahaan Indonesia akan ikut terdorong transparan
Banyak perusahaan Indonesia, terutama yang terhubung ke pasar ekspor (kelapa sawit, tekstil, otomotif, komponen elektronik, dan lainnya), akan semakin diminta menyediakan data emisi yang dapat diverifikasi. Hal ini sejalan dengan kecenderungan global menuju perdagangan rendah karbon dan potensi penerapan carbon border adjustment oleh kawasan seperti Uni Eropa.
2. Peluang bagi startup lokal
Kisah Zevero dapat menjadi inspirasi lahirnya startup iklim lokal yang fokus pada solusi serupa untuk konteks Indonesia – mulai dari pemantauan emisi di sektor energi dan industri, pengukuran jejak karbon UMKM, hingga dukungan data untuk energi terbarukan dan proyek konservasi.
3. Integrasi dengan kebijakan nasional
Pemerintah Indonesia sedang mendorong penerapan pajak karbon, perdagangan karbon, dan penguatan target Nationally Determined Contribution (NDC). Semua kebijakan ini memerlukan fondasi data emisi yang kuat, dan platform teknologi iklim dapat menjadi bagian dari ekosistem pendukungnya.
Meskipun pendanaan US$7 juta tampak menjanjikan, ada sejumlah tantangan yang dihadapi oleh Zevero dan pemain sejenis.
Model bisnis berbasis langganan
Mayoritas platform manajemen karbon mengadopsi model SaaS berbasis langganan. Pendapatan datang dari biaya berlangganan bulanan atau tahunan yang dibayarkan perusahaan untuk menggunakan platform dan mendapatkan dukungan teknis. Skala bisnis sangat bergantung pada kemampuan memperluas basis klien lintas negara dan sektor.
Kompleksitas regulasi lintas negara
Standar pelaporan dan regulasi emisi berbeda-beda di setiap wilayah. Platform harus terus memperbarui metodologi dan fitur agar selaras dengan aturan terbaru. Ini menuntut investasi berkelanjutan dalam riset kebijakan dan kerja sama dengan pakar lingkungan.
Isu keakuratan dan “greenwashing”
Salah satu kritik yang sering muncul adalah potensi platform ini digunakan hanya sebagai alat kosmetik hijau, tanpa perubahan nyata di lapangan. Oleh karena itu, kredibilitas, transparansi metodologi, dan kemampuan audit independen menjadi kunci. Media dan publik, termasuk di Indonesia, semakin sensitif terhadap praktik greenwashing.
Persaingan ketat
Pasar manajemen karbon kini diisi berbagai pemain – dari raksasa perangkat lunak global hingga startup khusus sektor tertentu. Zevero harus membedakan diri, misalnya melalui kemudahan penggunaan, kedalaman analitik, atau fokus pada segmen industri tertentu.
Agar manfaat platform teknologi iklim benar-benar terasa, diperlukan kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Di banyak negara, perusahaan swasta mulai bekerja sama dengan pemerintah dan organisasi masyarakat sipil untuk membangun standar dan infrastruktur data karbon yang dapat dipercaya.
“Data iklim yang baik adalah fondasi kebijakan yang baik. Tanpa data, target pengurangan emisi hanya menjadi slogan,” demikian kira-kira pandangan umum banyak pakar kebijakan iklim.
Bagi Indonesia, momentum ini bisa dimanfaatkan dengan:
Dalam konteks pemberitaan ekonomi hijau yang terus berkembang di Indonesia, pembaca juga dapat mengikuti dinamika regulasi dan inovasi melalui kanal ekonomi hijau yang secara khusus mengulas transisi menuju pembangunan berkelanjutan.
Pendanaan US$7 juta untuk Zevero menandai satu babak penting dalam evolusi platform teknologi iklim sebagai infrastruktur digital bagi ekonomi global yang berupaya menekan emisi. Di balik angka pendanaan tersebut, terdapat tren yang jauh lebih mendasar: pergeseran dari wacana iklim yang abstrak ke manajemen risiko berbasis data yang konkret di tingkat perusahaan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini adalah peringatan sekaligus peluang. Perusahaan nasional harus mempersiapkan diri menghadapi tuntutan transparansi emisi, sementara inovator teknologi lokal dapat belajar dari model bisnis dan pendekatan teknis pemain seperti Zevero untuk melahirkan solusi yang sesuai dengan konteks Nusantara. Pada akhirnya, siapa yang mampu membangun dan memanfaatkan platform teknologi iklim secara serius akan lebih siap bersaing di era ekonomi rendah karbon yang kini tidak lagi bisa dihindari.