1
1
akhunku.com – program kuliah yang tidak menghasilkan gaji tinggi kembali menjadi sorotan setelah Negara Bagian Indiana di Amerika Serikat mengesahkan regulasi baru yang memberi pengawasan ketat, bahkan kemungkinan penghapusan, bagi program studi yang lulusannya berpenghasilan rendah. Isu ini bukan hanya masalah Amerika. Bagi calon mahasiswa dan orang tua di Indonesia, perkembangan tersebut menjadi alarm penting: era memilih jurusan hanya berdasarkan gengsi, tren, atau ikut-ikutan teman, pelan-pelan sudah berakhir.
Di Indiana, lembaga legislatif (Indiana General Assembly) meloloskan aturan yang menargetkan program studi yang tidak memenuhi ambang batas pendapatan lulusan tertentu. Program-program seperti ini berpotensi dikurangi pendanaannya, dibekukan, atau bahkan ditutup. Meskipun konteksnya Amerika, logika kebijakannya sangat relevan dengan Indonesia yang juga tengah mendorong link and match antara pendidikan tinggi dan dunia kerja.
Legislasi di Indiana pada dasarnya ingin memastikan bahwa uang negara dan biaya pendidikan yang dibayar mahasiswa tidak “terbuang” pada program kuliah yang tidak menghasilkan gaji tinggi. Program yang tidak mampu mengantarkan lulusan pada tingkat penghasilan minimum tertentu akan dipantau lebih ketat.
Rincian undang-undangnya memang tidak dibuka secara lengkap dalam berita ringkas tersebut, namun pola kebijakan ini mengikuti tren nasional di Amerika yang dikenal dengan istilah gainful employment rule—aturan yang menilai keberhasilan program pendidikan berdasarkan penghasilan lulusannya. Konsep serupa bisa dijumpai dalam berbagai wacana reformasi pendidikan tinggi di banyak negara maju.
Data dari lembaga seperti Bureau of Labor Statistics Amerika Serikat sering menjadi acuan pembuat kebijakan untuk menilai apakah suatu jurusan masih relevan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja dan apakah gaji lulusan sebanding dengan biaya kuliah yang sangat mahal di sana.
Di Indiana, langkah legislatif ini menjadi sinyal tegas: universitas tidak lagi bisa mempertahankan program studi hanya karena “tradisi” atau “prestise” internal kampus, jika kenyataannya lulusannya kesulitan mendapatkan pekerjaan layak dengan gaji memadai.
Indonesia mungkin belum sampai pada tahap menutup program kuliah yang tidak menghasilkan gaji tinggi secara formal melalui undang-undang. Namun, tekanannya sudah terasa. Pemerintah melalui berbagai kementerian mendorong kampus meningkatkan serapan kerja lulusan, memutakhirkan kurikulum, serta memperkuat kemitraan dengan industri.
Selain itu, isu pengangguran terdidik di Indonesia juga cukup mengkhawatirkan. Berbagai laporan media dan data resmi menunjukkan bahwa lulusan S1 tidak otomatis mendapatkan pekerjaan layak. Badan Pusat Statistik (BPS), misalnya, berkali-kali mencatat jumlah pengangguran terbuka dari kelompok berpendidikan tinggi yang tidak bisa diabaikan. Informasi ini sering dikupas dalam berbagai analisis ekonomi di media nasional seperti Kompas.
Dalam konteks ini, kebijakan Indiana dapat dibaca sebagai peringatan dini: jika kampus dan pembuat kebijakan di Indonesia tidak bergerak cepat, tekanan publik dan pasar pada akhirnya akan memaksa perubahan—baik melalui regulasi, maupun melalui “sanksi” alami berupa menurunnya minat calon mahasiswa terhadap jurusan yang dianggap tidak menjanjikan masa depan finansial.
Bagi pembaca yang mengikuti dinamika kebijakan pendidikan dan ketenagakerjaan di Indonesia, pembahasan ini juga terkait dengan isu-isu di kanal Pendidikan dan tren yang kami ulas di rubrik Ekonomi.
Untuk membantu calon mahasiswa dan orang tua memahami isu ini secara lebih tajam, berikut tujuh fakta krusial yang bisa dijadikan rujukan sebelum memilih jurusan:
Di banyak negara—termasuk Indonesia—biaya kuliah cenderung naik dari tahun ke tahun. Namun, kenaikan gaji awal lulusan tidak selalu sejalan. Inilah akar kegelisahan terhadap program kuliah yang tidak menghasilkan gaji tinggi. Ketika biaya kuliah tinggi, tetapi gaji lulusan rendah, tingkat return on investment (ROI) pendidikan menjadi dipertanyakan.
Di Amerika, hal ini diperparah oleh beban utang pendidikan (student loan) yang sangat besar. Di Indonesia, meski skemanya berbeda, beban finansial keluarga tetap terasa—baik melalui tabungan, pinjaman, maupun kesempatan yang hilang selama bertahun-tahun kuliah.
Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah menganggap semua jurusan ilmu humaniora, sosial, atau seni sebagai program kuliah yang tidak menghasilkan gaji tinggi. Pandangan ini terlalu menyederhanakan situasi. Penghasilan lulusan sangat dipengaruhi:
Artinya, jurusan yang sama bisa menghasilkan profil penghasilan lulusan yang berbeda jika faktor-faktor di atas dikelola secara serius.
Di Amerika, sudah jamak kampus mempublikasikan data penghasilan median lulusan per jurusan beberapa tahun setelah wisuda. Transparansi ini menjadi dasar kebijakan semacam yang terjadi di Indiana. Di Indonesia, keterbukaan data ini masih terbatas, tetapi mulai tumbuh. Beberapa perguruan tinggi unggulan sudah merilis data penyerapan kerja lulusan dan kisaran gaji awal.
Ke depan, transparansi seperti ini berpotensi menjadi dasar penilaian publik terhadap program kuliah yang tidak menghasilkan gaji tinggi. Kampus yang enggan mempublikasikan data serapan kerja lulusan bisa saja mulai dipertanyakan kredibilitasnya oleh calon mahasiswa yang semakin kritis.
Langkah Indiana menyasar program yang tidak memenuhi ambang batas gaji tertentu merupakan bentuk lanjutan dari pendekatan berbasis kinerja (performance-based funding). Secara sederhana, negara ingin memastikan uang publik digunakan pada program yang benar-benar mengantarkan lulusan ke pekerjaan layak.
Jika pola ini diadopsi lebih luas, baik di Amerika maupun negara lain, kampus mau tidak mau harus mengevaluasi portofolio jurusannya: mana program yang kuat dan berkontribusi signifikan pada kesejahteraan lulusan, dan mana yang berisiko masuk kategori program kuliah yang tidak menghasilkan gaji tinggi.
Walau Indonesia belum memiliki kebijakan seketat Indiana, mekanisme pasar sudah berjalan. Jurusan yang dianggap tidak menjanjikan mulai sepi peminat, sementara program favorit seperti teknologi informasi, kedokteran, bisnis, atau teknik, kebanjiran pendaftar.
Menariknya, dalam beberapa tahun terakhir, persepsi sosial tentang jurusan juga mulai bergeser. Munculnya banyak profesi baru di dunia digital membuat beberapa jurusan yang dulu dipandang “kurang menjanjikan” kini justru punya peluang jika dibarengi keterampilan tambahan. Misalnya, lulusan sastra yang menguasai content marketing, SEO, dan analitik data, bisa meraih penghasilan yang jauh lebih baik dibanding gambaran stereotip masa lalu.
Kritik yang cukup kuat terhadap kebijakan semacam di Indiana adalah risiko mereduksi pendidikan tinggi hanya menjadi mesin pencetak tenaga kerja bergaji tinggi, dan melupakan fungsi-fungsi lain seperti pengembangan ilmu pengetahuan, kebudayaan, serta pembentukan karakter warga negara.
Argumen ini valid, tetapi perlu diimbangi. Bagi banyak keluarga, terutama kelas menengah dan menengah ke bawah di Indonesia, kemampuan ekonomi setelah lulus bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Oleh karena itu, meski pendidikan tidak boleh semata-mata dinilai dari gaji, mengabaikan total aspek finansial juga tidak realistis.
Idealnya, kampus dan pemerintah dapat menyeimbangkan: membina ilmu-ilmu dasar dan humaniora, sekaligus memastikan lulusannya tidak terjebak pada kategori program kuliah yang tidak menghasilkan gaji tinggi dengan cara memperkaya kurikulum keterampilan abad 21.
Fakta krusial terakhir: di era biaya pendidikan tinggi yang semakin besar, calon mahasiswa perlu memikirkan diri sebagai “investor” atas masa depan mereka sendiri. Itu berarti:
Dengan perspektif ini, calon mahasiswa tidak mudah terjebak pada program kuliah yang tidak menghasilkan gaji tinggi hanya karena faktor gengsi atau kurangnya informasi.
Kebijakan Indiana bisa menjadi contoh ekstrem dari arah baru pendidikan tinggi global: tuntutan akuntabilitas finansial. Kampus tidak bisa lagi bersembunyi di balik jargon akademik ketika lulusan mereka kesulitan masuk pasar kerja atau digaji di bawah standar layak.
Bagi pembuat kebijakan di Indonesia, ada beberapa pelajaran penting:
Sementara bagi kampus, tekanan ini bisa menjadi momentum untuk berbenah: memperbarui kurikulum, memperkuat layanan karier, memperluas jaringan magang, dan mengintegrasikan keterampilan digital serta kewirausahaan ke dalam berbagai program, termasuk program yang selama ini dicap sebagai program kuliah yang tidak menghasilkan gaji tinggi.
Kisah Indiana adalah cermin yang sebaiknya tidak diabaikan oleh ekosistem pendidikan tinggi Indonesia. Di satu sisi, ia mengingatkan bahwa negara dan publik berhak meminta akuntabilitas dari kampus atas nasib ekonomi lulusan. Di sisi lain, ia menegaskan bahwa calon mahasiswa dan orang tua tidak boleh lagi memilih jurusan hanya berdasarkan stereotip lama.
Pada akhirnya, masa depan pendidikan tinggi akan banyak ditentukan oleh kemampuan semua pihak—pemerintah, kampus, dunia usaha, dan calon mahasiswa—untuk berdialog jujur tentang data penghasilan lulusan, relevansi kurikulum, serta kebutuhan nyata pasar kerja. Tanpa itu, kita berisiko mengulang pola yang kini mulai dikoreksi di Amerika: mempertahankan terlalu banyak program kuliah yang tidak menghasilkan gaji tinggi dan baru menyadari dampaknya ketika generasi muda sudah telanjur menanggung bebannya.